Membongkar hasil pertemuan Jokowi dengan Sekjen Partai Komunis Vietnam



Nasional.in ~ Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut kedatangan Sekjen Partai Komunis Vietnam, Nguyen Phu Trong di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/8). Nguyen bersama rombongan tiba di Istana sekitar pukul 10.30 WIB.

Jokowi menyambut langsung kedatangan Nguyen. Seusai prosesi penyambutan tersebut, dilanjutkan dengan upacara kenegaraan. Upacara kenegaraan dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan dari kedua negara.

Seusai mendengarkan lagu kebangsaan kedua negara, Presiden Jokowi dan Nguyen memberikan hormat kepada bendera negara masing-masing. Setelah itu, keduanya masuk ke dalam Istana Merdeka.

Pertemuan Jokowi dengan Nguyen menghasilkan beberapa kerja sama antar kedua negara maupun perusahaan BUMN. Diharapkan, kerja sama ini bisa menguntungkan bagi kedua negara.

Seperti diketahui, Vietnam sudah menjadi mitra strategis Indonesia sejak 2013 lalu. Pada pertemuan 7 Oktober tahun sama, Indonesia-Vietnam telah menyepakati rencana aksi yang akan dilakukan dari 2014 sampai 2018.

"Vietnam adalah negara di kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi hingga mencapai enam persen pada 2016 lalu. Kedua negara mencapai angka perdagangan senilai USD 6,2 miliar PADA 2016 dan Indonesia juga menanam modal di properti, obat-obatan, dan makanan dengan total USD 2 miliar," ucap Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya.

Dengan kunjungan ini, Indonesia berharap kedua negara akan mengembangkan kerja sama yang lebih luas lagi. Terlebih sebagai negara-negara anggota ASEAN, sudah sepatutnya tercipta kerja sama agar stabilitas dan hubungan di kawasan tetap terjaga.

Berikut hasil pertemuan Jokowi dengan Sekjen Parta Komunis Vietnam seperti dirangkum merdeka.com.

1. Kerja sama perangi pencurian ikan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa Indonesia dan Vietnam sepakat meningkatkan kerja sama setidaknya dalam tiga bidang. Kedua negara, sepakat meningkatkan kerja sama di bidang maritim dan perikanan, perdagangan dan investasi serta isu kawasan.

Hal ini disampaikan Presiden Jokowi usai melakukan pertemuan bilateral dengan Sekjen Partai Komunis Vietnam, Nguyen Phu Trong di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/8).

"Di bidang maritim dan perikanan, Indonesia dan Vietnam sepakat mempercepat proses perundingan di limitasi batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Dan bidang perikanan kedua negara sepakat untuk menindaklanjuti usulan Indonesia bagi dicapainya suistenable fishires dan bekerja sama mengatasi Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing," kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan, kerja sama di bidang perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Vietnam terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Dalam pertemuan, terus dibahas langkah menciptakan inisiatif baru sehingga target nilai perdagangan sebesar USD 10 miliar dapat tercapai.

"Sebagai negara kunci dan produsen utama lada dan karet di dunia, kita juga bersepakat untuk mengambil langkah konkret dalam pengelolaan dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kualitas kedua komoditas tersebut," katanya.

Dalam bidang investasi, Jokowi berharap investor Indonesia di Vietnam dapat terus mendapatkan perlindungan dan difasilitasi. Dalam pertemuan, Jokowi menjelaskan kedua negara juga bertukar pikiran tentang isu kawasan khususnya ASEAN yang memasuki usia ke-50 serta menekankan persatuan dan sentralitas ASEAN, pentingnya kerja sama mewujudkan visi masyarakat ASEAN tahun 2025.

Indonesia juga menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam kerangka code of conduct yang akan menjadi dasar yang kuat pengaturan norma komprehensif di Laut China Selatan. "Kita juga sepakat untuk menjadikan ASEAN sebagai motor bagi terciptanya perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan kawasan," ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Sekjen Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong menyambut baik hubungan antara dua negara. Dia mengapresiasi hubungan kedua negara semakin terjali hangat di tengah kondisi dunia yang menurutnya sedang rumit.

Sejak 2013, lanjut dia, hubungan antara Vietnam dan Indonesia semakin terjalin dengan baik. Pertemuan ini dinilainya sebagai sebuah momentum bersejarah meningkatkan kepercayaan politik dan menjadi dorongan baru bagi kedua negara.

"Kami berdiskusi terbuka mencari arah dan solusi untuk berbagai bidang, seperti politik, pertahanan, ekonomi, dan perdagangan investasi. Kita juga setuju untuk pertemuan delegasi lanjutan untuk bahasan perlunya pertukaran informasi dan delegasi," ujarnya.

Menurut Nguyen, partai politik dan parlemen di Indonesia juga fokus menciptakan lingkungan yang baik untuk menarik invetasi. Hal ini, kata dia, menunjukkan bukti bahwa komunitas ASEAN yang kuat dan meningkatkan komitmen dari negara ASEAN menjaga kesatuan dan meningkatkan kerja sama perdagangan. "Saya puas pertemuan ini akan meningkatkan hubungan dan membawa hal yang baik bagi kedua negara, utamanya kontribusi dari seluruh pihak, termasuk masyarakat," katanya.

2. Jual gas ke Vietnam

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan pemerintah akan menjual gas yang diproduksi oleh Premier Oil di Blok Tuna, Kepulauan Natuna ke Vietnam. Proses penjualan gas akan diatur oleh SKK Migas.

"Intinya begini hasil gas dari blok Tuna yang dikelola oleh Premier Oil itu melalui SKK Migas akan menjual gasnya ke Vietnam," kata Menteri Jonan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/8).

Menteri Jonan menjelaskan untuk merealisasikan penjualan tersebut, maka pemerintah akan membangun pipa kurang lebih sepanjang 70 kilometer ke Vietnam. Tujuannya untuk mengaliri gas.

"Pipanya panjangnya berapa? kalau dari batas perairan, wilayah perairan itu mungkin dari sumur ke situ mungkin 11 kilometer (km). Nah maju lagi sampai ke daratan mungkin 60 (kilometer) jadi 70 kilometer," ujarnya.

Mantan menteri perhubungan itu menjelaskan alasan gas tak dialirkan ke Indonesia. Penyebabnya, harga jual akan mahal. Maka, pemerintah memutuskan untuk menjualnya ke Vietnam.

"Karena kalau dialirkan ke wilayah Indonesia dari blok Tuna itu fasilitas pipa yang paling dekat yang kita punya, kalau tidak salah ya, itu panjangnya 382 kilo. Ya harganya jadi mahal kalau dijual ke sini. Jadi lebih baik dijual ke sana (Vietnam)," ujarnya.

3. Garuda Indonesia kerja sama dengan Vietnam Airlines

Maskapai penerbangan Vietnam Airlines dan maskapai penerbangan Indonesia Garuda Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) untuk memperkuat kerja sama antara dua maskapai di bidang kemitraan codeshare, layanan, MRO (perawatan, perbaikan, Dan overhaul) dan kargo.

Perjanjian kerja sama ini ditandatangani langsung oleh Presiden dan CEO Vietnam Airlines Duong Tri Thanh dan Presiden dan CEO Garuda Indonesia, Pahala Mansury.

"Kami berharap dapat memperkuat kemitraan kami dengan Garuda Indonesia sehingga pelanggan dapat memperoleh keuntungan yaitu lebih banyak pilihan penerbangan dan kualitas layanan internasional yang sangat baik dari 5 maskapai penerbangan terkemuka di Asia," kata Duong di Jakarta, Rabu (23/8).

Di tempat yang sama, Pahala Mansury mengatakan bahwa kemitraan dengan Vietnam Airlines untuk memperluas jaringan Garuda lebih jauh lagi di Asia Tenggara.

"Vietnam adalah pasar yang penting bagi Indonesia dan melalui kemitraan ini, kita dapat melakukan lebih banyak perjalanan dan peningkatan jumlah penumpang yang bepergian di antara kedua negara. Pada saat yang sama, kesepakatan tersebut diharapkan dapat mendorong aktivitas perdagangan dan pariwisata dengan membuat Indonesia lebih mudah diakses oleh pengunjung Vietnam," ujarnya.

Menurut Pusat Penerbangan Asia Pasifik, pasar penerbangan Asia Tenggara berkembang lebih cepat dari pada rata-rata global di hampir setiap negara di kawasan ini, berkat pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah. Enam dari 10 negara di Asia Tenggara menikmati pertumbuhan dua digit dalam lalu lintas penumpang, yang dipimpin oleh Vietnam dan Myanmar. Tren ini diperkirakan akan berlanjut pada 2017.

Dua maskapai penerbangan berusaha untuk memperluas kemitraan codeshare mereka saat ini dalam rute berikut: Hanoi Ho Chi Minh city, Hanoi / Ho Chi Minh city Singapura, Singapura Jakarta / Bali dan Jakarta Bali / Java. Kedua maskapai sepakat untuk mencari peluang untuk meningkatkan bidang kerja sama lainnya seperti layanan, MRO & kargo atas dasar saling menguntungkan.

Perluasan kemitraan antara kedua maskapai tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kerja sama mereka di dalam dan berkontribusi pada pengembangan Aliansi Skyteam.


ADA BERITA MENARIK SCROLL KE BAWAH www.NASIONAL.in
Sumber Berita : merdeka.com


[nasional.in/apik.apikepol.com]