Pencuri Ini Bilang Novel Pernah Menyetrum Kemaluan dan Siksa Orang Sampai Mati

loading...
loading...

Nasional.in ~ Enam pria yang mengaku korban kekerasan Novel Baswedan kembali muncul dengan membeberkan sejumlah tindakan kejam dilakukan oleh penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di mana saat itu Novel menjabat sebagai Kasatreskrim Polres Bengkulu.

Meski para pelaku telah mengakui kesalahannya telah mencuri sarang walet dan tidak melakukan perlawanan, tetapi Novel tetap melakukan penganiayaan kepada keenam pelaku. Mereka adalah M. Rusliansyah, Dedy Nuryadi, Doni Y Siregar, Rizal Sinurat, Irwansyah, dan Yulian Yohanes. Bahkan Yulian ditembak di bagian kaki hingga meninggal dunia karena kehabisan darah.

"Ini nyata fakta tidak ada yang direkayasa dan satu orang ada yang salah tangkap. Pada 18 februari 2004 kami melakukan pencurian sarang walet dan tertangkap tangan tapi tidak melakukan perlawanan. Kami dibawa masuk ke mobil dengan ditendang, di dalam mobil diinjak-injak," kata Irwansyah di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, (22/8).

Kata Irwansyah, para pelaku yang menjadi korban Novel saat itu digiring ke Polres Bengkulu. Di sanalah mereka mendapatkan kekerasan hingga tengah malam.

"Sampai di Polresta Bengkulu kami dicampakkan disuruh buka baju hanya mengenakan celana dalam, tanpa ada pertanyaan digebuki lagi sampai jam 11 malam, kami ditidurkan berenam digilas pakai motor dilandaskan dengan papan sampai dinaikkan yang mana disetrum kemaluan kami. Apa hubungannya maling dengan kemaluan, kecuali kami memperkosa. Itulah kebiadaban Novel Baswedan. Asal saudara tau, itu Novel Baswedan tidak ada yang namanya malaikat, dia itu iblis, perlu saudara tahu dia itu biadab lebih-lebih dari PKI beliau," bebernya.

Tidak hanya itu, kekejaman juga terus mereka dapatkan ketika mereka menjerit kesakitan justru lidah mereka disetrum dan disundut dengan bara api rokok. "Sampai kami di atas tidak melakukan perlawanan dan dibawa ke Pantai Panjang beliau (Novel Baswedan) sudah di tempat untuk eksekusi penembakan, langsung kami dibariskan, pertama langsung beliau nembak saya baru saudara Dedy sehingga kami jatuh ke bawah," ucapnya.

Irwansyah menyebutkan, penyiraman air keras yang menimpa Novel adalah buntut dari karma atas apa yang ia perbuat.

"Bukan lagi trauma, bahkan saya bersyukur alhamdulilah terkabul doa saya bahwa beliau disiram air keras, si Novel ini jahat sebenarnya bukan malikat, buktinya salah nangkap, tidak mengakui kejahatannya, makanya disiram. Karma itu. Saya berdoa hendak kemana saya mengadu, kepada Tuhan, tuhan di mana, dikabulkan tuhan doa saya," tegasnya.

Sementara itu di tempat yang sama, Dedy mengaku kalau dirinya adalah korban salah tangkap. Sebab, saat itu ayahnya menyuruh dirinya untuk mengantarkannya seseorang.

"Bapak lagi makan dan nyuruh saya yang jemput Ela, 'Dede jemput Ela bapak nggak bisa bapak lagi makan', kemudian saya pergi jemput Ela tapi Ela bilang mau pergi ke kafe tempat kerja dia, sesudah itu dia bilang jemput pacar saya dulu Ded di fitnes di Simpang Lima. Tapi saat tiba-tiba datang beberapa orang yang langsung menyergap dan memasukkan saya ke dalam mobil. Langsung digebuk-gebukin gitu, saya minta tolong apa salah saya tapi tetap dipukul tiap saya bilang tidak tahu dipukul lagi, tidak berselang lama rombongan ini dimasukin ke mobil dan digebukin juga," katanya.

Sementara itu, kuasu hukum korban Yuliswan mengatakan, kalau hal ini bukan untuk melakukan perlawanan. Tetapi untuk mencari keadilan.

"Insya Allah komisi III akan melakukan pemanggilan minggu depan kepada saudara jaksa agung untuk melakukan penuntutan. Perlu dicatat sampai sekarang register tersangka Novel Baswedan atau sebenarnya terdakwa itu belum dicabut di PN Bengkulu. Rabu, (23/8), kita akan menghadap ke Presiden Joko Widodo untuk menyerahkan surat permintaan keadilan yang mereka sebut 'Surat Kecil Untuk Wakil Tuhan'," pungkas Yuliswan.

ADA BERITA MENARIK SCROLL KE BAWAH www.NASIONAL.in
Sumber Berita : Merdeka.com


[nasional.in/apik.apikepol.com]
loading...